“Bagaimana? Sudah jadi?” tanyaku cemas campur panik. Orang yang aku ajak bicara hanya terdiam, mengamati objek di depannya. Dia terlihat serius sekali.
“Sebentar lagi,” jawabnya.
Dia, Kim. Mungkin yang terbayang di mata kalian dia adalah Kim Kurniawan. Sosok pesepak-bola muda dengan kulit putih, wajah ganteng, dan yang pasti membuat kalian meleleh (secara fisik). Iya, dia seperti Kim. Tapi dia bukanlah Kim yang kalian maksud. Kim yang ada di depanku ini adalah Muhammad Al Hakim, seorang siswa SMA kelas 12 yang pintarnya, subhanallah… membuat orang kagum. Fisiknya sebelas-duabelas sama Kim Kurniawan. Dia itu jenius, tapi dalam hal akademik—itu yang aku tahu—dan yang pasti dia tidak pintar bermain bola, seperti halnya Kim Kurniawan. Tapi semangatnya sungguh menggebu-gebu. Aku tahu hal ini dari obrolan kami 20 menit yang lalu. Ketika ban sepedaku mendadak meledakkan amarahnya. Dan saat itulah aku mengetahui sisi yang berbeda dari seorang Kim. Kim yang disayang para guru….
Aku terduduk lemas di pinggir jalan. Seharusnya kemarin sore aku mendengarkan omongan Kak Ilham untuk membawa sepeda bututku ini ke bengkel mengganti ban dalam yang sudah hamil 7 bulan. Tiba-tiba ada bayangan yang menutupi sinar mentari pagi.
“Ban sepeda kamu meletus?” aku menyipitkan mata untuk melihat orang yang berada di depanku. Kim?
“Iya. Parahnya lagi, aku harus cepat-cepat sampai ke sekolah. Hari ini aku piket,” kataku. Setelah mendengar penjelasanku, Kim segera berlari kearah gang di depanku. Pupuslah sudah harapanku untuk cepat sampai di sekolah.
“Bisa geser sedikit?” tanya seseorang membuyarkan lamunanku. Dengan agak kesal aku bergeser dan mendongak untuk melihat wajah si pelaku. Aku terlonjak kaget. Ternyata dia!
Kim segera mengambil alih sepeda bututku. Lima menit kemudian Kim sudah berada dalam dunianya sendiri. Karena heran melihat pemandangan yang tidak biasa, aku menanyakan pertanyaan yang bergumul dibenakku.“Kamu suka otomotif?” Ups! Aku segera menutup mulutku dan meminta maaf.
“Kenapa minta maaf?" Dia tersenyum."Bukan. Aku cinta sekali dengan dunia otomotif. Sayangnya, orang tuaku berpendapat lain. Karena aku pintar dalam eksak, aku dituntut untuk masuk ke sekolah yang tidak aku suka dan mengubur cita-citaku. Tapi… aku sangat menghormati mereka dan tidak ingin mereka kecewa. Satu harapan yang aku punya, semoga saja ada begitu banyak kesempatan setelah aku melepaskan secuil kesempatan”.
Ada sinar kesedihan di matanya, tapi hanya sekejap saja. Karena yang kulihat kini adalah sinar harapan. Aku baru mengenal Kim. Dia, Kim yang memilih cita-citanya terpendam demi orang yang dia sayang. Dan itu adalah pilihan hidup yang dia ambil. Kim bukan Kim Kurniawan yang dapat mengejar cita-citanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar